Istana Maimun, Jejak Kejayaan Melayu Tanah Medan

istana maimunKerajaan Melayu pernah berjaya di kebanyakan wilayah barat Indonesia, salah satunya adalah di tanah Medan. Buktu dari kejayaan Melayu di tanah Medan adalah keberadaan Istana Maimun yang dulu merupakan tempat tinggal keluarga kerajaan sekaligus pusat pemerintahan kota Medan dibawah kekuasaan sultan. Seperti istana kerajaan Melayu lainnya, Istana Maimun ini juga didominasi dengan warna kuning yang merupakan warna khas Melayu. Warna ini menyimbolkan kejayaan dan budi pekerti yang luhur, ciri kehidupan kerajaan Melayu. Dari luar istana ini tampak seperti masjid karena bentuk bangunannya yang memiliki banyak kubah dan juga memiliki lekukan-lekukan khas bangunan masjid.

Saat anda memasuki istana ini, anda akan benar-benar menyaksikan kejayaan kerajaan Melayu di masa lalu. Arsitek yang mewah dengan warna kuning yang semarak akan menyambut anda sejak memasuki gerbang sampai anda memasuki istana. Selain itu, berbagai peninggalan sultan dan perabot didalam istana juga merupakan perabot mewah dengan berbagai ukiran khas dan warna-warna emas. Selain warna kuning, warna lain yang terlihat mendominasi setiap ruangan di istana maimun ini adalah warna hijau. Istana ini juga dikenal dengan nama Istana Putri Hijau karena leganda tentang Putri Hijau yang mewarnai istana kesultanan Deli ini.

Legenda itu bercerita tentang seorang putri bernama Putri Hijau. Ia dijuluki Putri Hijau karena tubuhnya yang memancarikan aura berwarna hijau. Karena kecantikannya itu pulalah seorang raja Aceh jatuh hati dan hendak menjadikannya istri. Namun sayang, lamaran raja Aceh tersebut ditolak oleh kedua saudara kandung Putri Hijau yaitu Mambang Khayali dan Mambang Yasid. Entah kenapa kedua saudara kandung Putri Hijau tersebut tidak menyetujui adiknya diperistri oleh raja Aceh. Karena murka, maka raja Aceh menyerang Istana Maimun dan berencana untuk menculik Putri Hijau. Namun Mambang Yasid dan Mambang Khayali melindungi adik mereka dan juga istana mereka dari ancaman serangan raja Aceh.

Lama kelamaan serangan dari raja Aceh semakin gencar sampai menewaskan Mambang Yasid. Hal ini telah menyulut kemarahan Mambang Khayali sehingga ia berubah menjadi sebuah meriam yang menembaki raja Aceh dan pasukannya dari depan Istana Maimun untuk melindungi segala yang ada didalam Istana Maimun. Mambang Khayali yang telah berubah menjadi meriam menembaki raja Aceh dan pasukannya dengan membabi buta sampai tubuhnya terbelah menjadi dua bagian. Salah satu bagiannya konon terlempar sampai ke daerah Karo, sedangkan bagian lainnya terlempar ke Labuhan Deli. Meriam buntung yang ditemukan di Labuhan Deli kemudin dipindahkan ke dalam Istana Maimun dan masih ada sampai saat ini.

Istana Maimun dan meriam buntungnya telah menjadi salah satu ciri khas kota Medan. Tidak lengkap rasanya mengunjungi Medan jika tidak berkunjung juga ke Mesjid Raya Medan dan juga Istana Maimun ini. Selain karena kejayaan Kerajaan Deli di masa lalu yang meninggalkan istana nan mewah di Medan, cerita tentang Putri Hijau juga ikut menjadi daya tarik Istana Maimun ini. Walaupun sangat kental dengan budaya Melayu, istana peninggalan kerajaan Deli ini juga arsitekturnya terpengaruh beberapa gaya dari Timur Tengah, Moghul, Spanyol, India dan Belanda. Misalnya terlihat dari bentuk pintu dan jendela yang tinggi dan mencirikan gaya Eropa. Kemudian juga lengkungan di atap yang mencirikan gaya Timur Tengah dan India. Istana yang memiliki satu bangunan utama dan dua saya di kanan dan kiri ini memiliki keseluruhan ruangan sebanyak 30 ruangan.



2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge