Mengulik Sejarah Tanah Lot di Kepulauan Bali

Bali memang telah dikenal sebagai daerah tujuan wisata nomor satu di Indonesia. Bukan hanya karena keindahan alamnya yang menawan, tapi juga karena kearifan budayanya yang masih dijaga walaupun pengaruh asing begitu gencar memasuki Bali. Kearifan lokal inilah yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan yang mengunjungi Bali. Banyak wisatawan yang menikmati liburan dengan menonton sendratari ataupun turut dalam berbagai upacar adat yang sakral. Salah satu hal yang juga menjadi ciri khas Bali adalah kentalnya ajaran Hindu yang dianut sebagian besar masyarakat Bali. Bali bahkan bisa seketika menjadi senyap saat Nyepi datang sekalipun ratusan wisatawan juga sama datang dan minta disuguhi.

tanah lot bali

Salah satu cerita menarik tentang penyebaran agama Hindu di Bali adalah cerita dari Tanah Lot. Tanah Lot berarti tanah ditengah laut. Seperti yang kita ketahui, Tanah Lot memang terletak beberapa meter dari bibir pantai, sepreti sebuah pulau yang memisahkan diri. Saat air surut, wisatawan bisa mengunjungi Tanah Lot dengan berjalan kaki. Saat air pasang, Tanah Lot benar-benar terlihat serpti sebuah pulau kecil yang hanya berisi pura di pinggir pantai. Sejarah Tanah Lot tak lepas dari sejarah penyebaran agama Hindu di Bali. Pura yang ada di Tanah Lot adalah pura yang dibangun oleh salah satu orang yang menyebarkan ajaran Hindu di Bali.

Orang itu adalah Danghyang Niartha, seorang guru dari Jawa Timur yang berniat menyebarkan agama Hindu di Bali. Kedatangannya disambut baik oleh raja Dalem Waturenggong, raja yang menguasai Bali kala itu. Raja Dalem Waturonggeng menyambut Danghyang Niartha dengan baik. Maka ia menyebarkan agama Hindu setiap harinya dari desa ke desa di setiap sudut Pulau Bali. Suatu hari dalam perjalanannya menyebarkan agama Hindu, Danghyang Niartha menemukan sebuah cahaya suci dari tenggara. Ia mengikuti terus sinar suci tersbut karena penasaran, hingga sinar suci tersebut kemudian membawanya pada sebuah mata air.  Di mata air tersebut Danghyang Niartha menemukan sebuah tempat yang sangat indah, tak jauh dari situ ia menemukan batu karang berbentuk burung yang kemudian ia namai Gili Beo.

Pada saat itu masih banyak masyarakat Bali yang menuhankan manusia. Salah satunya adalah Bendesa Beraban yang dituhankan oleh beberapa masyarakat. Danghyang Niartha dimusuhi Bendesa Beraban karena sedikit demi sedikit warganya banyak yang beralih menganut ajaran yang disebarkan oleh Danghyang Niartha. Maka ia bermeditasi dan melakukan pemujaan pada Dewa Laut di tempat yang indah tersebut. Dengan kekuatannya, Danghyang Niartha kemudian memindahkan tempat tersebut ke tengah laut untuk melindungi dirinya dari Bendesa Beraban. Selain itu, Danghyang Niartha juga menciptakan ular-ular dari selendangnya untuk melindunginya dari serangan Bendesa Beraban. Sampai saat ini masih ada ular-ular di sekitar Tanah Lot yang konon adalah ular-ular penjaga Danghyang Niartha.

Karena kegigihan Danghyang Niartha, ia bukan hanya bisa melidungi diri dari Bendesa Beraban, ia bahkan bisa membuat Bendesa Beraban mengikuti ajarannya. Setelah berhasil menyebarkan agama Hindu di Bali, Danghayng Niartha melanjutkan perjalanannya dan mewariskan Keris Jarmanera atau Keris Ki Baru Gajah pada Bendesa Beraban. Keris itu masih ada dan dirawat sampai saat ini di dalam pura Tanah Lot. Keris tersebut bahkan diupacarakan pada hari raya Kuningan. Hari raya ini diperingati setiap 210 hari sekali sesuai kalender Bali atau juga dikenal dengan nama Buda Wage Lengkir.



2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge