Mengunjungi Kandasnya Cinta Sangkuriang dan Dayang Sumbi di Tangkuban Parahu

Tangkuban ParahuLembang adalah kawasan wisata paling diminati di kota Bandung. Selain karena keindahan alamnya dan udaranya yang sejuk dan sangta cocok dijadikan untuk tempat berlibur, Lembang juga memiliki daya tariknya tersendiri dengan wisata Tangkuban Parahu yang sangat terkenal dengan cerita Dayang Sumbi dan Sangkuriang, kisah cinta terlarang antar Ibu dan anak. Nama Tangkuban Parahu itu sendiri juga diambil dari bentuk gunung itu yang menyerupai bentuk perahu yang terbalik.

Tangkuban diambil dari kata nangkub yang berarti telungkup, sedangkan parahu diambil dari kata perahu. Bisa kita lihat bahwa gunung Tangkuban Perahu ini berbentuk perahu yang terbalik. Kawasan wisata Tangkuban Perahu juga merupakan objek wisata yang mudah dicapai karena lokasi gerbangnya yang tidak jauh dari jalan raya. Untuk mencapai kawah, anda bisa menggunakan bis terbuka yang sudah disediakan untuk wisatawan.

Cinta terlarang Dayang Sumbi dan Sangkuriang bukanlah cinta terlarang yang disengaja karena mereka sebenarnya tidak mengetahui kalau mereka adalah ibu dan anak. Namun cinta sudah terlanjur mereka rasakan ketika mereka mengetahui bahwa mereka adalah ibu dan anak. Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anaknya setelah ia menemukan bekas luka di kepala Sangkuriang. Luka itu adalah luka yang dibuat oleh Dayang Sumbi saat Sangkuriang membunuh Si Tumang, ayahnya sendiri yang merupakan seekor anjing.

Asal mula Sangkuriang berayahkan seekor anjing adalah karena Dayang Sumbi yang sedang menjahit, jarumnya jatuh ke tanah. Ketika itu, Dayang Sumbi berjanji lelaki manapun yang mau mengambilkan jarum untuknya akan dia angkat menjadi suami. Sayangnya, yang mengambilkan jarumnya ternyata adalah Si Tumang, anjing jantan milik kerajaan. Dayang Sumbi mengutarakan pada sang ayah bahwa ia akan menikahi Si Tumang karena sudah bersumpah. Sang ayah tidak sudi bermenantukan seekor anjing, maka diusirnya Dayang Sumbi dan Si Tumang ke hutan. Dayang Sumbi menghabiskan hari-hari di hutan dengan berdoa pada Dewa karena nasib buruk yang menimpanya, maka Dewa mengaruniakan padanya kemudaan sepanjang hidupnya.

Suatu hari Dayang Sumbi menginginkan hati rusa. Sangkuriang dan Si Tumang pergi memburu rusa ke tengah hutan. Pada saat Sangkuriang akan memanah rusa, Si Tumang membantunya menghadang rusa hingga akhirnya Si Tumanglah yang terpanah hingga mati. Karena hari sudah sore dan ia sudah lelah, ia membawa pulang hati Si Tumang dan mengatakan pada Dayang sumbi bahwa itu adalah hati rusa. Setelah berhari-hari Si Tumang tidak pulang, Dayang Sumbi mencarinya. Sangkuriang akhirnya berkata jujur bahwa hati yang dimakan ibunya beberapa hari lalu adalah hati Si Tumang. Dayang Sumbi marah besar dan memukul kepala Sangkuriang, lalu mengurirnya dari rumah. Di perantauannya, Sangkuriang bertemu seorang guru yang mengajarinya ilmu kebal dan ilmu silat. Hingga saat dewasa ia bertemu lagi dengan Dayang Sumbi di sebuah desa.

Setelah tau bahwa Sangkuriang adalah anaknya, Dayang Sumbi membatalkan pernikahan yang tinggal menunggu hari. Tapi Sangkuriang tidak bisa menerima keputusan Dayang Sumbi ini. Lalu Dayang Sumbi meminta Sangkuriang untuk membendung sungai ciliwung dan membuat perahu untuk berlayar sebelum matahari terbit. Sangkuriang dan kekuatannya hampir menyelesaikan pekerjaan saat matahari hampir terbit. Dayang Sumbi meminta para wanita untuk mengembangkan selendang merah di timur dan menapi beras agar ayam berkokok. Sangkuriang ikut tertipu matahari terbit bohong itu, ia marah dan menendang perahu yang sudah hampir selesai hingga terbalik seperti gunung Tangkuban Parahu saat ini.



Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge