Menyusuri Sejarah Kota Pontianak Melalui Istana Kesultanan Kadariah

Indonesia sejak dulu kala selain dikenal sebagai negara kepulauan juga dikenal sebagai negara kerajaan. Ada beberapa kerajaan besar yang menguasai setiap tanah di Nusantara. Sampai saat ini, sisa-sisa kerajaan itu masih terlihat, salah satunya melalui Istana Kesultanan Kadariah, Pontianak. Belum lengkap rasanya mengunjungi Pontianak kalau mengunjungi istana bersejarah di kota ini, yang juga merupakan saksi berdirinya kota Pontianak.

Istana ini berada di dekat sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Sehingga disarankan untuk mengunjungi Istana Kesultanan Kadriah di sore hari agar bisa menikmati suasana sore dan senja di tepi sungai Kapuas. Di bagian depan, anda akan disambut oleg gerbang besar berwarna kuning. Sebelum mengunjungi istana ini, bersiaplah untuk melihat dominasi warna kuning dimana-mana.

Bangunan Istana Kadariah ini sangat mencirikan gaya melayu, terutama dari warna kuning yang mendominasi. Dalam budaya Melayu, warna kuning melambangkan kejayaan dan budi pekerti. Istana yang keseluruhan materialnya terbuat dari kayu ini dibangun pada tahun 1771 oleh Sultan Al-Qadrie. Di muka istana ini, ada sebuah tulisan arab bertuliskan Istana Kadriah, juga dijaga oleh sebuah meriam berwarna kuning. Bentuk istana ini sendiri juga sangat mencirikan budaya Melayu yaitu dengan gaya rumah panggung. Istana ini tampak sederhan dari luar, tapi saat anda memasukinya, anda akan melihat kejayaan Melayu di masa lalu. Walaupun terbuat dari kayu, istana ini memiliki empat tingkat dan luasnya tidak kalah dengan keraton dan istana lain. Jika dilihat dari depan, maka anda hanya akan menemui sebuah gerbang rumah besar yang sederhana. Jika dilihat dari samping, maka anda akan menemukan betapa besarnya sebenarnya Istana Kadriah.

Memasuki ruangan utama, anda akan disambut dengan warna kuning yang meriah pada setiap tira-tirai pintu, juga kuning pucat pada dinding dan langiit-langit. Ruangan utama istana ini juga dihiasi lampu-lampu hias dan dua buah cermin besar dan mewah dengan ukiran perak yang sangat khas dan disimpan berhadapan. Cermin ini dikenal dengan nama cermin seribu karena bayangan anda akan dipantulkan sangat banyak oleh cermin di seberangnya. Cermin ini juga termasuk salah satu barang paling berharga di dalam Istana Kesultanan Kadarian dan menjadi daya tarik tersendiri untuk istana ini. Disini juga anda akan menemukan berbagai hiasan khas kerajaan seperti guci-guci mewah, dan juga foto peninggalan keluarga sultan, anda bisa membayangkan orang-orang dalam foto tersebut tinggal di istana ini, membaca sejarah hidup mereka sekaligus membaca sejarah berdirinya kota Pontianak. Di ruangan utama ini juga anda akan disambut dengan dua singgasana untuk raja dan ratu yang dihiasi tirai-tirai berwarna kuning cerah dengan warna kursi singgasana yang juga kuning cerah.

Selain singgasana dan ruangan utama, anda juga bisa memasuki ruangan-ruangan pribadi sultan di Istana Kesultanan Kadariah ini. Didalam kamar, tentu saja warna kuning tetap mendominasi. Mulai dari perangkat sprei, tirai-tirai pintu dan jendela, lampu gantung, kelambu, karepet, sampai cermin yang berhiaskan ukiran berwarna kuning dan berwarna emas. Di istana ini, bukan hanya jendela-jendela yang diberi tirai, tapi pintu-pintu juga diberi tirai warna kuning cerah. Budaya ini sangat mencirikan budaya melayu, yaitu memberi tirai pada pintu-pintu. Semua ruangan dan warna kuning yang mendominasi Istana ini menonjolkan kesederhanaan, kejayaan dan juga budi pekerti para bangsa Melayu yang menguasai tanah Kalimantan di masa lalu. Pastikan anda mengunjungi istana ini saat berlibur ke Pontianak.



Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge